Leisha Patidar tampil mencolok setelah serangkaian reel bertema FIFA yang viral melintas lintas platform. Leisha Patidar, kreator asal Mumbai, menggabungkan bahasa visual olahraga dan kecantikan tanpa meninggalkan audiens inti yang selama ini diikutinya.

Dalam percakapan tentang perjalanan dan strategi kontennya, Patidar menjelaskan bagaimana eksperimen itu lahir dan mengapa ia menolak menyerah pada tren semata. “I love combining beauty with anything people don’t even expect,” ujarnya, menegaskan pendekatan kreatif yang menjadi ciri khasnya.
Dari kecantikan ke reel FIFA yang viral
Patidar sudah berkarya selama enam setengah tahun dan mulai memproduksi konten di media sosial sejak 2020. Serinya yang mengaitkan rias wajah dengan maskot dan warna negara untuk FIFA 2026 dimulai pada 9 Juni. Satu video dari rangkaian itu meraih lebih dari 27.6 juta views organik dalam 18 jam, menjadikannya salah satu momentum paling menonjol dalam kariernya.
Ide itu bukan sekadar ikut-ikutan. Patidar mengatakan, “Instead of just supporting the team in a traditional way, I wanted to create makeup looks inspired by different countries’ flags.” Hasilnya adalah format yang menggabungkan transformasi makeup, nama-nama pemain internasional, serta musik upbeat sehingga konten itu mudah melintas batas dan menarik komentar dari penggemar sepak bola di berbagai negara.
Kritik awal, dukungan pengikut, dan latar belakang
Perjalanan Patidar dimulai sejak masa lockdown Covid setelah ia menyelesaikan kelas 12. Saat itu ia berada di Jaipur bersama keluarga dan bereksperimen dengan hanya sekitar lima produk di meja riasnya, lalu menghasilkan sekitar 12 tampilan berbeda. Dari sana ia mulai membuat konten kecantikan yang kemudian membawanya ke lebih dari 1 juta pengikut.
Namun jalan itu tidak selalu mulus. Patidar mengaku sempat menerima komentar negatif terkait warna kulitnya. “I am a dusky skin tone girl from India. I used to get a lot of hate in my comment section about me being dusky and why I should do makeup,” kata dia. Kritik itu sempat memengaruhi, tetapi dukungan audiens membantu dia tetap bertahan: ada pengikut yang menjadikannya inspirasi dan memulai perjalanan kreasi mereka sendiri berkat kontennya.
Tekanan kreator, tren, dan pilihan bermerek
Pengalaman viral membuat Patidar mendapat audiens baru, termasuk banyak pengikut pria, karena kontennya memadukan dua genre: kecantikan dan olahraga. Ia menyoroti bahwa tren memang berperan, tetapi bukan satu-satunya penentu keberhasilan. “You need to be your authentic self to capture those first three seconds or else people will scroll,” ujarnya. Menurut Patidar, meski beberapa awal penting, audiens tetap mencari orisinalitas dan konsistensi.
Ia juga memperhatikan perubahan dalam ekosistem kerja sama merek. Dulu mendapatkan banyak kerja sama lebih mudah; sekarang merek lebih selektif dan menuntut manfaat yang jelas. Patidar mengatakan ia memilih bermitra dengan brand yang selaras dengan audiens dan keasliannya.
Dalam hal manajemen, Patidar menyebut peran agensi penting karena satu orang tidak bisa mengurusi semuanya—mulai dari pembuatan konten hingga negosiasi peluang besar. Sejak awal kariernya ia dikelola oleh Monk Entertainment dan menilai pengalaman itu positif.
Upaya, rencana ke depan, dan konsistensi
Behind the scenes, produksi konten bukan hal yang instan. Untuk satu video FIFA ia menghabiskan delapan jam, dan seluruh rangkaian tampilan selesai dalam tiga hari. Patidar menekankan bahwa banyak orang tidak melihat kerja keras di balik layar: “People don’t know that part of your side. They can easily say anything, but you know it, God knows it and your team knows it.”
Ke depan, ia ingin memperluas jangkauan ke lifestyle, travel, food, dan vlog YouTube, serta tertarik dengan peluang akting di web series atau film. Meski begitu, ia menegaskan bahwa pembuatan konten akan terus menjadi bagian dari dirinya, dan kunci pertumbuhan adalah konsistensi: “I don’t think there was one turning point. It was overall consistency. I have been working since I was 17. Just showing up every single day, even if you don’t feel like it.” Ketika diminta memilih viralitas dan komunitas setia, jawabannya tegas: “A viral reel with my loyal community.”
Patidar menunjukkan bahwa menggabungkan identitas konten dengan momen budaya yang relevan dapat membuka audiens baru tanpa harus kehilangan akar, asalkan kreator memegang pada orisinalitas, kerja keras, dan selektif dalam memilih mitra.
