Gelombang klaim pada kemasan makanan membuat banyak konsumen mengambil keputusan belanja lebih cepat daripada membaca seluruh label. Klaim makanan tunggal seringkali cukup untuk memberi kesan produk lebih sehat, padahal arti klaim itu sendiri bisa terbatas.

Fenomena ini bukan kebetulan: sejak era tren protein dan diet ketogenik, kata-kata seperti “protein rich”, “No Palm Oil” dan “No Added Sugar” menjadi alat pemasaran yang efektif—kadang melebihi kapasitas konsumen untuk memahami implikasinya.
Bagaimana satu klaim membentuk kesan keseluruhan
Para peneliti nutrisi menyebut efek itu sebagai halo effect. Ketika sebuah produk menonjolkan satu klaim menenangkan—misalnya “protein” atau “organic”—pembeli cenderung menganggap seluruh produk sehat tanpa meneliti komposisi lain. Beberapa studi menunjukkan konsumen bahkan enggan membaca informasi nutrisi lebih lanjut jika klaim di bagian depan sudah terlihat jelas.
Alasan lain klaim bekerja adalah kecepatan dan kemudahan: dalam ekonomi perhatian yang sempit, kata-kata sederhana menggantikan analisis yang lebih rumit bagi pembeli.
Perbedaan klaim dan kesehatan nyata
Klaim seperti “No Palm Oil” sering ditafsirkan sebagai indikator kesehatan atau kemurnian. Namun alasan palm oil menjadi sorotan dua arah: pertama soal kesehatan—palm oil mengandung sekitar 50% lemak jenuh, lebih banyak daripada minyak bunga matahari atau minyak bekatul, tetapi lebih sedikit dari mentega, minyak kelapa dan minyak inti sawit. Bukti apakah konsumsi moderat palm oil meningkatkan risiko penyakit jantung masih beragam.
Kedua adalah soal kepercayaan: palm oil merupakan salah satu minyak pangan termurah dan pernah digunakan untuk mengurangi mutu minyak yang lebih mahal. Kejadian ini memicu kekhawatiran konsumen sehingga label “No Palm Oil” dianggap sebagai jaminan kemurnian, padahal klaim tersebut tidak otomatis berarti produk lebih sehat secara keseluruhan. Asosiasi makanan juga menyebut klaim itu lebih bersifat taktik pemasaran, sementara pedoman pemerintah mengakui peran palm oil dalam pola makan seimbang.
Klaim “No Added Sugar” dan celah peraturan
Istilah “No Added Sugar” juga menyimpan kekeliruan. Di bawah regulasi pelabelan makanan di India, klaim itu hanya menyatakan bahwa gula tidak ditambahkan saat proses pembuatan. Klaim tersebut tidak menyinggung gula alami dalam bahan atau penggunaan bahan pengganti seperti maltodextrin atau glucose syrup solids yang dapat menaikkan gula darah tanpa kata “sugar” muncul di daftar bahan.
Praktik ini memicu pengawasan regulator. The Whole Truth sempat diminta keterangan oleh FSSAI terkait klaim “No Added Sugar” pada dark chocolate yang dipermanis dengan date powder; perusahaan kemudian mengganti klaim itu menjadi “Sweetened with Dates” sambil berdialog dengan otoritas.
Regulator dan iklan di sektor lain
FSSAI aktif menegur banyak merek atas klaim seperti “healthy”, “organic” dan “zero maida”. Contohnya, produk “Zero Maida” dipertanyakan karena mengandung bahan turunan gandum halus, sehingga klaimnya dinilai berpotensi menyesatkan. Heritage Foods diminta menghapus kata “Fresh” dari kemasan paneer karena tidak memenuhi standar definisi. Regulator juga menyoroti klaim absolut seperti “100%” yang sulit diverifikasi.
Polanya mirip di sektor kecantikan: laporan menunjukkan sebagian besar iklan produk kecantikan perlu revisi, dan 2025 hingga awal 2026 lebih dari 500 merek perawatan pribadi mendapat peringatan karena klaim berlebihan seperti “natural” atau testimoni yang tidak diungkap sebagai iklan berbayar. Pada 2024, Mahkamah Agung sempat menangguhkan izin produksi untuk belasan produk Patanjali terkait klaim menyesatkan.
Di sisi konsumen, konten singkat di media sosial seringkali lebih cepat menyebarkan tren diet dibanding nasihat medis, sehingga keputusan seperti menghindari susu atau gluten kerap diambil tanpa kebutuhan medis. Pembuat konten yang mengurai klaim produk, seperti Himi Khandelwal di Instagram dengan akun theskintellectualgirl, mencoba memperjelas perbedaan janji di depan kemasan dan daftar bahan sebenarnya.
Pada akhirnya, banyak klaim di rak toko memang benar secara teknis, tetapi pemasaran kerap memanfaatkan celah aturan, bukti ilmiah, dan apa yang diyakini konsumen. Di ruang itulah separuh-pengetahuan menjadi barang bernilai tinggi bagi pembeli yang menginginkan keputusan cepat dan mudah.
