Kesadaran tentang pencegahan kanker serviks kembali menjadi sorotan dalam acara bertajuk “Because She Can: Preventive Health for a Thriving Future—A Women’s Health Roundtable”. Forum ini mengajak perempuan Filipina mempertimbangkan langkah preventif seperti vaksinasi dan skrining sebagai bagian dari perawatan diri.

Diskusi yang digelar oleh MSD in the Philippines melalui inisiatif Guard Against HPV menghadirkan advokat, tokoh publik, dan tenaga medis untuk membuka percakapan yang sering diabaikan tentang kesehatan reproduksi dan pencegahan penyakit.
Angka dan alasan mengapa pencegahan penting
Cervical cancer masih menjadi penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan di Filipina, dengan perkiraan 12 Filipinas meninggal setiap hari akibat penyakit ini. Hampir seluruh kasus disebabkan oleh infeksi persisten human papillomavirus (HPV), virus yang umum menjangkiti pria dan wanita. Studi menunjukkan 80 sampai 90 persen individu yang aktif secara seksual berpotensi terinfeksi HPV setidaknya sekali seumur hidup.
Meskipun dapat dicegah melalui vaksinasi dan pemeriksaan teratur, banyak perempuan menunda tindakan preventif karena rasa takut, stigma, miskonsepsi, jadwal yang padat, serta kekhawatiran soal akses dan biaya. Kondisi ini diperparah oleh topik kesehatan reproduksi yang masih terasa canggung untuk dibahas di beberapa komunitas, sehingga perempuan enggan mencari informasi atau berkonsultasi lebih awal.
Pesan dari tenaga medis dan figur publik
Dalam sambutan acara, Dr. Mary Ann Galang-Escalona, MSD in the Philippines Country Medical Lead, menekankan pentingnya mengambil alih tanggung jawab atas kesehatan pribadi: “We are gathered here because we need to take care of ourselves. We need to take action and take ownership of our health because we can. We only have one life, and the choices we make for our health will shape the kind of life we intentionally want to live.”
Dr. Ada Angela Cabrera, ginekolog dan advokat pencegahan kanker serviks, mengingatkan manfaat vaksinasi sejak dini: “The younger you are when you receive the vaccine, the better the protection it can provide. But regardless of age, if you are over 45, have not yet been vaccinated, and have the means to do so, getting vaccinated is still worth considering.” Ia menambahkan, “It is always better to invest in prevention and protect yourself early, rather than having to deal with the consequences later on.”
Membangun ruang aman dan normalisasi percakapan
Para peserta forum menekankan bahwa pencegahan bukan hanya soal kunjungan medis, melainkan juga kebiasaan hidup sehat, manajemen stres, serta dukungan komunitas. Joy Barcoma menyoroti peran lingkungan yang suportif: “I try to normalize these conversations and create an environment where people do not feel ashamed or embarrassed to talk about their health. I want to be a safe space for others.” Ia menambahkan, “When we create safe spaces, conversations like these can thrive and prevention becomes not something people fear or blame themselves for, but a healthy practice that we embrace.”
Content creator Ayn Bernos mendorong pemberdayaan melalui informasi: “Information alone is already a big step forward, and everything else can follow from there.” Ia bercerita bagaimana pendidikan kesehatan mengubah cara pandangnya: “Being intentional meant allowing myself to receive the information and education that I needed. In doing so, I realized that this was never something I needed to fear in the first place.” Bernos juga menegaskan, “The real power lies in taking action. Once you take those steps, you realize that it is not as overwhelming as it seems. We do have control, and we have the ability to influence what happens in our lives.”
MJ Lastimosa mengingatkan bahwa investasi pada kesehatan hari ini berdampak pada masa depan: “It is not just about how you look physically or what you post on social media. It is also about genuinely taking care of yourself.” Ia memandang kesehatan sebagai proses berkelanjutan: “To me, taking charge of my health means understanding that I will always be a work in progress. It is not about fixing one thing and considering the job done.” Lastimosa menutup dengan komitmen personal: “I will continue to advocate for myself, seek ways to become better, and share what I learn with my family and friends.”
Diskusi juga melibatkan tokoh lain dan dipandu oleh moderator Alexis Tinsay, menghadirkan suasana yang mudah didekati bagi perempuan untuk bertanya dan berbagi pengalaman. Para narasumber mengingatkan bahwa langkah pencegahan—vaksinasi, skrining, dan gaya hidup sehat—adalah bentuk investasi untuk masa depan yang lebih aman.
Perempuan didorong untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai pencegahan kanker serviks, vaksin HPV, dan jadwal skrining yang dianjurkan. Dengan dukungan komunitas dan informasi yang tepat, prioritas pada kesehatan diri dapat menjadi kebiasaan yang melindungi generasi mendatang.
